Demo Ribuan Petani Moro-Moro Mesuji, Sempat Lumpuhkan Lintas Timur

Nyokabar | Senin, 28 September 2015 | Dibaca: 1241 | Mesuji

Nyokabar Mesuji. Ribuan petani gurem (penggarap lahan Reg 45 di Way Serdang-Red) dari Register 45 Moro-Moro gelar konvoi dan Orasi. Menuntut Keperdulian Pemerintah Mesuji agar berhenti melakukan perampasan tanah dan lahan petani.

Demo yang disertai aksi konvoi dengan kendaaran sepeda motor itu, dibawah kawalan ketat pihak kepolisian setempat, sehinga membuat arus lalu lintas di Jalan Lintas Timur Mesuji sempat menjadi lumpuh total, Selasa (28/9/2015).

Mereka yang tergabung dalam Gerakan Repormasi Agraria (AGRA) di Kawasan Register 45 Wilayah Moro-Moro, menggelar aksi tersebut juga sekaligus dalam rangka memperingati hari buruh (21/9/2015) lalu.

Dalam aksi konpoi dari Simpang Asahan hingga Simpang D, yang dipimpin Koordinator Lapngan Saipul tersebut, juga menyampaikan beberapa tuntutan kepada pemerintah, yakni masyarakat (buruh) dan petani Wilayah Moro-Moro meminta kepada Pemerintah Mesuji khususnya untuk menghentikan perampasan tanah dan menghentikan monopoli tanah oleh perkebunan besar. Selain itu mereka juga meminta ada pengawasan terkait Taman Nasional dan pertambangan yang dengan sengaja dieksploitasi sehingga telah menyebabkan bencana asap di berbagai daerah, serta menyebabkan kemiskinan tersebar luas di seluruh provinsi di Pulau Sumatra, jelas Ipul.

Keluhan senada juga di katakan Sikan (45) salah satu tokoh masyarakat Moro-Moro Reg 45, menurutnya pemerintah daerah di harapkan dapat membagikan tanah bagi buruh tani dan tani miskin dengan tujuan untuk kesejahteraan masyarakat bukan hanya perusahaan saja yang selama ini di beri hak guna usah (HGU) perkebunan terhadap tanah-tanah di Mesuji. "Petani juga butuh tanah untuk kehidupan kedepan, tegasnya.

Masyarakat juga meminta kepada pemerintah provinsi dan daerah untuk menurunkan harga sarana produksi pertanian, bibit, pupuk dan obat-obatan. Agar para petani dapat membeli karena harganya terjangkau. "Bagaimana kami bisa sejahtera jika harga untuk kebutuhan produksi pertanian dinaikan. Sebaliknya kami justru minta harga hasil dari produksi pertaniannya itu yang semestinya dinaikkan, menginggat saat ini kaum buruh dan petani sangat membutuhkan kehidupan yang lebih layak," teriak dan pekik mereka menyambaikan isi orasi.

Sedangkan selama 10 tahun terakhir, diberikan hak pilih bagi warga Moro-Moro. "Kami telah berjuang cukup lama di kawasan ini, akan tetapi masih banyak hak hak warga Moro-Moro yang belum di berikan oleh pemerintah, terutama akses pendidikan yang dipersulit, kesehatan yang tidak kunjung selesai hingga saat ini. Kita gelar aksi ini secara damai dan tertib. tutup Ipul.

Laporan Biro Mesuji By Herman

Komentar via Facebook