Pekerja Tewas Tertimpa Mangkuk Mesin Curah Kopi Milik PT. Sarhif Brothers Ternyata Belum Terdaftar Di BPJS Ketenagakerjaan

User 7 | Kamis, 23 Januari 2020 | Dibaca: 263 | Lampung Utara

Nyokabar Lampung Utara – Warto Susilo salah satu buruh tetap yang tewas mengenaskan dalam sebuah insiden kecelakaan kerja di gudang curah kopi milik PT Sharief Brother pada Selasa (21/1/2020) belum terdaftar dalam data base Badan Penyelenggra Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Kotabumi Kabupaten Lampung Utara (Lampura).

Tentunya dalam hal ini, Warto Susilo (korban.red) ataupun ahli waris tidak bisa mendapatkan santunan jaminan kematian saat kecelakaan kerja dari BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten setempat.

Kepala Cabang Perintis (KCP) BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Lampura, Zainal Abidin, saat dikonfirmasi diruang kerjanya, membenarkan jika PT. Sarhif Brothers perusahaan pengelola kopi di wilayahnya belum terdaftar didalam data base BPJS Ketenagakerjaan.

" Kami sudah dua kali melayangkan Surat Pemberitahuan (SP) kepada PT. Sarhif Brothers, Hingga saat ini belum juga ada tanggapan,” kata Zainal Abidin. Kamis (23/1/2020).

Dijelaskan Zainal, Surat pemberitahuan untuk kedua kalinya dilayangkan pada bulan November 2019 yang lalu. Tentunya lanjut dia, pihaknya tidak akan tinggal diam, BPJS Ketenagakerjaan akan melakukan kunjungan sesuai aturan yang berlaku.

" Tahap ketiga kita akan lakukan kunjungan, nanti bertanya kenapa kok belum mendaftarkan, karena ini aturan pemerintah yang akan melindungi para pekerja. Jika tidak juga ada tanggapan dari perusahaan maka kita serahkan ke pihak Kejaksan." ujarnya.

Ketika ditanya adakah sanksi bagi perusahaan yang tidak mendaftar atau tidak mengikut sertakan perkerja di BPJS Ketenagakerjaan. Dengan tegas, Zainal Abidin bahwa ada sanksi yakni berupa sanksi administrasi.

" Sanksinya administrasi, Namun sebenarnya ini bukan ranah kami, Ini ranah Dinas Ketenagakerjaan," imbuhnya.

Dijelaskannya, terkait besaran santunan atau jaminan tenaga kerja disebuah perusahaan yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan, maka seluruhnya di tanggung hingga sembuh. Baik itu kecelakaan ringan, berat hingga meninggal dunia. 

"Ada tiga jenis karyawan, yaitu, tetap, kontrak dan harian semua wajib mendapat perlindungan dari BPJS Ketenangakerjaan akan resiko kerja. Jika belum terdaftar kami hanya membantu menghitung saja, mulai dari upah terendah dikali 48 gaji ditambah biaya pemakaman, santunan berkala selama 2 tahun." Jelasnya.

Semua itu mengaku pada, Peraturan BPJS ketenagakerjaan, dimana hadirnya BPJS Ketenaga kerjaan ini guna memberikan rasa nyaman kepada ahli waris yang telah diatur oleh pemerintah.

Oleh sebeb itu, Zainal berharap, agar para pelaku usaha besar dapat mengikutsertakan karyawannya karena hal ini tidak merugikan perusahaan. Dengan diikutsertakan karyawan di BPJS Ketenagakerjaan perusahaan itu akan semakin berkembang.

" Mari segera daftarkan seluruh pekerja ke BPJS Ketenagakerjaan agar para pekerja mendapatkan perlindungan dari resiko kerja dikemudian hari." pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya Seorang buruh tetap gudang curah kopi PT. Sahrief Brother tewas setelah kepalanya tertimpa mangkok besi saat korban sedang mencurahkan kopi kedalam mesin elevator. Selasa (21/1/2020).

Kecelakaan kerja ini terjadi gudang curah kopi yang berada di Desa Bernah Kecamatan Kotabumi Selatan Kabupaten Lampung Utara (Lampura) menimpa Warto Susilo (63) salah satu buruh tetap PT Sahrief Brother.

Diketahui, warga Margajaya I Kelurahan Sidangsari, Kecamatan Kotabumi ini tewas setelah kepalanya tertimpa mangkok mesin elevator pencurahan kopi, sekitar pukul 08.30 WIB.

Saat dikonfirmasi, Giman (63) mandor PT Sahrief Brother, mengatakan, pada saat itu dirinya bersama tiga rekan kerjanya yakni Jamian (50), boiman (45) dan korban, sedang melakukan aktivitas sepertibiasanya yakni menyurah kopi. Tiba -tiba lanjut, GIman, mesin elevator macet karena diduga ada penyumbatan, sehingga dilakukan perbaikan.

“ Setelah diperbaiki, kemudian mesin hidup kembali. Saat itu, ada suara klontang – klontang, seperti benda jatuh,” jelas Giman saat diwawancarai di rumah duka.

Kemudian, lanjut Giman, dirinya bersama dengan pekerja lainnya langsung lari dari bawah mesin elevator untuk menghindar.

” Saya buru – buru kabur, sementara korban ada dibelakang saya sejauh lima meter,”katanya.

Kemudian, lanjut dia, pada saat itu, salah satu rekan kerjanya Boiman berteriak mengatakan bahwa Pak To sapaan akrab korban kepalanya tertimpah mangkuk besi curah kopi.

“ Mendengar hal itu, saya kembali dan korban sudah terkapar,” ujarnya.

Laporan Wartawan Nyokabar.com : Diqin

Komentar via Facebook