Kecelakaan Kerja, Warto Susilo Tewas Tertimpa Mangkuk Mesin Curah Kopi Milik PT. Sahrief Brother

User 7 | Selasa, 21 Januari 2020 | Dibaca: 5361 | Lampung Utara

Nyokabar Lampung Utara – Seorang buruh tetap gudang curah kopi PT. Sahrief Brother tewas setelah kepalanya tertimpa mangkok besi saat korban sedang mencurahkan kopi kedalam mesin elevator. Selasa (21/1/2020).

Kecelakaan kerja ini terjadi gudang curah kopi yang berada di Desa Bernah Kecamatan Kotabumi Selatan Kabupaten Lampung Utara (Lampura) menimpa Warto Susilo (63) salah satu buruh tetap PT Sahrief Brother.

Diketahui, warga Margajaya I Kelurahan Sidangsari, Kecamatan Kotabumi ini tewas setelah kepalanya tertimpa mangkok mesin elevator pencurahan kopi, sekitar pukul 08.30 WIB.

Saat dikonfirmasi, Giman (63) mandor PT Sahrief Brother, mengatakan, pada saat itu dirinya bersama tiga rekan kerjanya yakni Jamian (50), boiman (45) dan korban, sedang melakukan aktivitas sepertibiasanya yakni menyurah kopi. Tiba -tiba lanjut, GIman, mesin elevator macet karena diduga ada penyumbatan, sehingga dilakukan perbaikan.

“ Setelah diperbaiki, kemudian mesin hidup kembali. Saat itu, ada suara klontang – klontang, seperti benda jatuh,” jelas Giman saat diwawancarai di rumah duka.

Kemudian, lanjut Giman, dirinya bersama dengan pekerja lainnya langsung lari dari bawah mesin elevator untuk menghindar.

” Saya buru – buru kabur, sementara korban ada dibelakang saya sejauh lima meter,”katanya.

Kemudian, lanjut dia, pada saat itu, salah satu rekan kerjanya Boiman berteriak mengatakan bahwa Pak To sapaan akrab korban kepalanya tertimpah mangkuk besi curah kopi.

“ Mendengar hal itu, saya kembali dan korban sudah terkapar,” ujarnya.

Selanjut, Giman bersama pekerja lainnya langsung membopong tubuh korban untuk dibawa ke mobil menuju Rumah Sakit Handayani(RSH) Kotabumi.

”Saat dalam mobil, denyut nadinya masih ada, dan setelah menjalani perawatan beberapa saat di rumah sakit, korban dinyatakan meninggal dunia,” katanya.

Sementara istri korban, Kusmiatun, meminta pertanggungjawaban penuh pihak perusahaan, karena korban merupakan satu – satunya, tulang punggung keluarga.

”Saya tidak punya siapa – siapa lagi. Suami saya berangkat kerja dalam kondisi sehat, dan pulang sudah jadi mayat. Jadi saya minta tanggungjawab kepada Pak Sharief,” katanya sambil menahan isak tangis.

Terkait tanggungjawab, Kusmiatun mengatakan, berupa segi perekonomian keluarganya.

”Kami orang nggak punya, dengan kejadian ini, saya tidak punya siapa – siapa lagi,” tambahnya.

Kendati demikian, Kusmiatun telah mengikhlaskan kepergian suaminya tersebut dan menganggap itu sudah menjadi takdir hidupnya.

”Saya ikhlas bapak pergi, dan menganggap ini musibah,”tambahnya.

Sementara Wakil Direktur PT Sharief Brother, Herry Syaripudin, saat dikonfirmasi dirumah duka menyatakan, bahwa pihaknya siap bertanggungjawab penuh atas insiden tersebut.

”Kita akan bertanggungjawab, dan akan memenuhi apa yang menjadi harapan keluarga korban. Kita juga sudah memberikan santunan dan biaya pemakaman,” ujarnya.

“Kita juga akan menyiapkan berbagai tuntutan pihak keluarga korban, seperti biaya tahlilan baik, niga, nujuh, empat puluh, seratus hari. Tergantung kemauan pihak keluarga,” imbuhnya.

Kecelakaan kerja di Gudang PT Sahrief Brother, Anggota DPRD Lampura Ini mengaku baru pertama kali terjadi.

” ini baru pertema kalinya,“ katanya.

Laporan Wartawan Nyokabar.com : Diqin

Komentar via Facebook