Begini Detik Detik Mobil Terseret Banjir yang Tewaskan Satu Keluarga

Nyokabar | Selasa, 27 Februari 2018 | Dibaca: 2805 | Lampung Tengah

Nyokabar.com, Lampung Tengah - Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Lampung sejak Minggu (25/2) malam hingga Senin (26/2), berujung duka.

Banjir menelan empat korban jiwa di Lampung Tengah.Tiga orang yang merupakan satu keluarga meninggal setelah mobil yang ditumpangi terseret arus banjir di Gunung Sugih.

Sedangkan satu korban lainnya dinyatakan meninggal di Kecamatan Seputih Banyak. Selain itu, ratusan rumah warga terendam air hingga mencapai lebih dari dua meter. Banjir juga memutus jembatan penghubung Kota Metro ke Batang Hari, Lampung Timur.

Penelusuran Tribun Lampung, satu keluarga terdiri dari empat orang menjadi korban arus banjir yang terjadi di Gunung Sugih, Lamteng. Tiga dari empat warga tersebut dinyatakan meninggal dunia setelah terseret arus ke sungai.

Ketiga korban meninggal adalah Supangat (64), Warsinem (65), dan Talita (5). Sementara satu korban selamat adalah Nur Palupi (13). Para korban adalah warga Dusun Bendo Sari, Kelurahan Komering Putih, Kecamatan Gunung Sugih.

Peristiwa nahas itu terjadi saat Supangat pulang dari rumah anaknya, yang berada di Kelurahan Yukum Jaya, Terbanggi Besar. Supangat beserta istri dan dua cucunya bertolak dari Yukum Jaya sekitar pukul 04.00 WIB, dengan mengendarai mobil Kijang BE 2331 GH.

Sampai di Komering Putih, mobil korban terbawa arus aliran air dari Sungai Tipo yang menggenangi jalan. Karena arus sangat kencang, mobil terseret sejauh 15 meter dan masuk ke dalam anak sungai yang ada di pinggir jalan.

Soleh, seorang saksi mata, menyebutkan, warga setempat sempat berupaya menahan kendaraan korban namun gagal karena arus air sangat kencang. Keempat korban itu terjebak di dalam mobil yang terseret arus.

"Sudah ditahan oleh warga supaya tidak terbawa arus, tapi gagal dan mobil masuk ke dalam anak kali. Karena suasana masih gelap, korban semuanya masih di dalam mobil," kata Soleh.

Korban Supangat dan Warsinah meninggal akibat tenggelam di dalam mobil. Sementara Talita meninggal setelah terseret arus sejauh satu kilometer dari lokasi kejadian. Adapun, Nur Palupi selamat setelah berpegangan di tangkal kayu.

Para korban meninggal langsung dimakamkan di Kampung Bendo Sari sekitar pukul 10.00 WIB. Pihak keluarga menyatakan pasrah atas musibah ini. Selain di Gunung Sugih, berdasarkan data Basarnas, satu warga juga dinyatakan meninggal di Kecamatan Seputih Banyak.

Sedangkan dua orang masih dinyatakan hilang di Kecamatan Bekri. Selain itu, banjir mengakibatkan kemacetan di sejumlah ruas Jalur Lintas Tengah (Jalinteng) Sumatera, mulai Kecamatan Bumi Ratunuban, Gunung Sugih, Bandar Jaya, Terbanggi Besar, Way Pengubuan, dan Terusan Nunyai.

Pantauan di lokasi, Senin sore, genangan air di Jalinteng berada di kawasan Terbanggi Besar dan Bumi Ratunuban, Way Pengubuan dan Gunung Sugih. Sehingga, laju kendaraan melambat.

Akibat luapan air di Way Pengubuan misalnya, satu unit kendaraan pribadi terperosok ke dalam parit. Warga menjelaskan, kendaraan itu terseret arus air. "Kejadiannya sekitar pukul 05.00 WIB, saat itu hujan masih deras. Mobil dari arah Kotabumi menuju Bandar Lampung, pengendaranya ada dua orang, semua selamat," terang Kiki, warga Way Pengubuan.

Sementara itu, Kepala BPBD Lamteng, Guntur Napitupulu, menyatakan banjir terjadi di 10 kecamatan, yakni Gunung Sugih, Bekri, Seputih Agung, Way Pengubuan, Bumi Ratunuban, Bandar Mataram, Bandar Surabaya, Seputih Banyak, Terbanggi Besar, dan Seputih Mataram.

Kecamatan Bekri tercatat sebagai kawasan paling parah. Data sementara, 250 rumah warga terendam dengan ketinggian air di atas dua meter.

Tak hanya itu, sekitar ratusan hektare lahan sawah ikut terendam. Kerugian sementara ditaksir miliaran rupiah. Tak hanya itu, warga juga masih mengungsi karena hingga Senin pukul 19.00 WIB, air masih menggenangi sebagian besar pemukiman.

Kepala BPBD Lamteng, Guntur Napitupulu menjelaskan, pihaknya telah mengerahkan dua unit perahu karet untuk mengevakuasi warga. BPBD juga dibantu oleh Tagana, Dinas Sosial dan juga SAR Brimob Polda Lampung.

"Kita sudah serahkan bantuan berupa perlengkapan makanan ringan, selimut, tenda dan dapur umum ke Bekri karena lokasi itu yang terparah. Air masih belum ada tanda-tanda turun dan kita mengimbau masyarakat untuk waspada," ujarnya.*

Komentar via Facebook