Ansor Way Kanan Ajak Kader Siapkan Bank Darah

Nyokabar | Selasa, 16 Januari 2018 | Dibaca: 184 | Way Kanan

Nyokabar Way Kanan.   PC GP Ansor Way Kanan, Lampung berikhtiar meluncurkan Gerakan Bank Darah Hidup sebagai upaya menyikapi persoalan kesulitan mencari donor darah pengganti melalui keluarga, teman yang seringkali dipublikasikan masyarakat melalui jejaring dan media sosial.

 

    Upaya tersebut, ujar Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Ahad 14 Januari 2018, juga merupakan pelaksanaan Nawa Prasetya yang mengharuskan kader Ansor dan Banser peduli terhadap nasib umat manusia tanpa memandang suku, bangsa, agama dan golongan.

 

    “Langkah tersebut merupakan langkah kecil. Kami akan mengawali di Kampung Bumi Baru yang berada di Kecamatan Blambangan Umpu pada Selasa 16 Januari. Sekalian mengajak kader donor darah, kami akan mendata dan mengelompokan kader sesuai golongan darahnya,” ujar pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu.

 

    Setiap 10 kader dengan golongan darah A, B, AB atau O di satu kampung atau desa nantinya akan dipimpin satu orang. Tujuannya, untuk mempermudah jika ada masyarakat sekitar membutuhkan.

 

    “Demikian juga jika dari sepuluh orang tersebut berikut keluarga membutuhkan darah dengan golongan sama, akan lebih cepat diketahui karena nama hingga nomer telepon tercatat semua,” urai penggiat Gusdurian Lampung itu.

 

    Kabupaten Way Kanan yang berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Provinsi Sumatera Selatan memang belum memiliki Unit Transfusi Darah (UTD) yang memadai sehingga muncul persoalan ketersediaan darah belum memenuhi kualitas  dan kuantitas.

 

    Sebagai pemuda tentu tidak dapat berpangku tangan melihat persoalan nyata tersebut. Langkah dapat diambil pemuda Nahdlatul Ulama (NU) saat ini adalah dengan menghimpun pendonor sukarela sebagai “Bank Darah Hidup”, bermitra dengan Palang Merah Indonesia (PMI).

 

    “Jumlah kader Ansor  di Way Kanan cukup besar. Bulan Desember 2017 saja bertambah sekitar 200 orang. Diharapkan ketersediaan calon pendonor dapat terpenuhi bila sewaktu-waktu ada masyarakat yang membutuhkan. Namun demikian, keterlibatan masyarakat untuk berpartisipasi kedepan juga sangat diperlukan. Termasuk campur tangan pemerintah kampung hingga daerah,” kata dia lagi.

 

    Gatot menambahkan, pihaknya hanya memantik nilai gotong royong yang dalam bahasa Lampung disebut Sakai Sambayan untuk terus menyala dan terjaga.

 

    Nilai-nilai luhur warisan nenek moyang jangan sampai hilang. Masyarakat juga harus menjadikan donor darah sebagai gaya hidup karena memang bermanfaat menjaga kesehatan bagi dirinya sendiri.

 

    “Faktanya, asam urat bisa sembuh dengan terapi mengeluarkan darah kotor seperti bekam dan memecah pembuluh darah vena yang disebut pashod. Donor darah bermanfaat untuk kesehatan diri sendiri selain untuk menyelamatkan jiwa orang lain,” demikian Gatot Arifianto. (Nun Rizqia)

 

 

Komentar via Facebook