Kuota Elpiji Tanggamus Membengkak

Nyokabar | Kamis, 26 Oktober 2017 | Dibaca: 134 | Tanggamus

Nyokabar.com, Kota Agung - Pemerintah Kabupaten Tanggamus menyatakan kebutuhan elpiji 3 kg terus meningkatkan sepanjang tahun ini. Tingginya permintaan tersebut didasari laporan distribusi yang disampaikan PT Pertamina.

“Untuk Tanggamus distribusinya sudah overload, sudah terjadi kelebihan distribusi dari kuota yang ditetapkan awal tahun lalu,” kata Irhamsyah Kundo, Kasubag Produksi mewakili Kabag Ekonomi Suyanto, Rabu (25/10).

Ia mengaku awalnya pada Januari lalu Tanggamus didistribusikan 756,00 metrik ton, lalu Februari turun jadi 745,90 metrik ton.

Namun Maret naik 779,52 metrik ton, April turun jadi 767,76 metrik ton. Lantas Mei naik drastis jadi 843,36 metrik ton. Selanjutnya sampai Agustus jadi 871,92 metrik ton.

Sejak Mei sampai Agustus distribusinya selalu diatas 800 metrik ton. Paling tinggi terjadi pada Juni karena sampai 896,28 metrik ton karena masa Idul Fitri. Sehingga total kumulatif elpiji 3 kg yang sudah didistribusikan ke Tanggamus sebanyak 6.462,12 metrik ton.

“Beberapa bulan terakhir ini distribusi elpiji 3 kg memang terus mengalami kenaikan, tidak bisa lagi seperti bulan-bulan awal tahun,” tambahnya.

Menuru dia, lonjakan kebutuhan elpiji sebenarnya tidak saja terjadi di Tanggamus tapi seluruh Indonesia. Hal itu berdasarkan rapat koordinasi di Palembang dengan seluruh daerah di Indonesia.

“Di seluruh daerah terjadi kenaikan, bahkan kebutuhan negara untuk elpiji juga naik,” ujarnya.

Selama ini PT Pertamina memang terus memenuhi kebutuhan kenaikan elpiji karena di lapangan kebutuhannya juga naik. Apabila dikurangi stoknya maka yang timbul adalah kelangkaan dan itu menyebabkan kenaikan harga.

“Kalau harganya naik dan stok langka sangat rawan menimbulkan keresahan di masyarakat. Hal inilah yang kita jaga agar masyarakat tidak resah akibat kelangkaan elpiji,” tukasnya.

Selanjutnya jika masih ada harga yang tinggi di tingkat eceran, Irhamsyah mengaku belum mengetahui pasti apa sebabnya.

Pasalnya tidak ada pengurangan distribusi. Bila masih ditemukan harga mahal, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pertamina dan agen-agen untuk mencari tahu sebabnya.

Selama dua bulan terakhir ini harga elpiji sudah di atas harga biasanya. Itu terjadi di Kota Agung dan Gisting. Jika dulunya harga di eceran antara Rp 20-22 ribu untuk Kota Agung kini jadi Rp 22-25 ribu per tabung. Kemudian di Gisting antara Rp 19-20 ribu sekarang Rp 20-23 ribu per tabung.

“Kalau beberapa hari kemarin beli harganya Rp 22 ribu, itu termasuk murah, sebab ada yang Rp 25 ribu.

Biasanya beli di warung-warung yang lebih dekat dengan rumah,” ujar Tini, warga Kota Agung. Melda, warga Gisting juga mengaku membeli elpiji dengan harga yang tinggi.

“Kalau dulu memang harganya Rp 20 ribu tapi sekarang tidak bisa lagi sudah Rp 22 ribu,” tandasnya. (SB/CD)

Namun Maret naik 779,52 metrik ton, April turun jadi 767,76 metrik ton. Lantas Mei naik drastis jadi 843,36 metrik ton.

Selanjutnya sampai Agustus jadi 871,92 metrik ton. Sejak Mei sampai Agustus distribusinya selalu diatas 800 metrik ton. Paling tinggi terjadi pada Juni karena sampai 896,28 metrik ton karena masa Idul Fitri. Sehingga total kumulatif elpiji 3 kg yang sudah didistribusikan ke Tanggamus sebanyak 6.462,12 metrik ton.

“Beberapa bulan terakhir ini distribusi elpiji 3 kg memang terus mengalami kenaikan, tidak bisa lagi seperti bulan-bulan awal tahun,” tambahnya.

Menuru dia, lonjakan kebutuhan elpiji sebenarnya tidak saja terjadi di Tanggamus tapi seluruh Indonesia. Hal itu berdasarkan rapat koordinasi di Palembang dengan seluruh daerah di Indonesia.

“Di seluruh daerah terjadi kenaikan, bahkan kebutuhan negara untuk elpiji juga naik,” ujarnya.

Selama ini PT Pertamina memang terus memenuhi kebutuhan kenaikan elpiji karena di lapangan kebutuhannya juga naik. Apabila dikurangi stoknya maka yang timbul adalah kelangkaan dan itu menyebabkan kenaikan harga.

“Kalau harganya naik dan stok langka sangat rawan menimbulkan keresahan di masyarakat. Hal inilah yang kita jaga agar masyarakat tidak resah akibat kelangkaan elpiji,” tukasnya.

Selanjutnya jika masih ada harga yang tinggi di tingkat eceran, Irhamsyah mengaku belum mengetahui pasti apa sebabnya. Pasalnya tidak ada pengurangan distribusi. Bila masih ditemukan harga mahal, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pertamina dan agen-agen untuk mencari tahu sebabnya.

Selama dua bulan terakhir ini harga elpiji sudah di atas harga biasanya. Itu terjadi di Kota Agung dan Gisting. Jika dulunya harga di eceran antara Rp 20-22 ribu untuk Kota Agung kini jadi Rp 22-25 ribu per tabung. Kemudian di Gisting antara Rp 19-20 ribu sekarang Rp 20-23 ribu per tabung.

“Kalau beberapa hari kemarin beli harganya Rp 22 ribu, itu termasuk murah, sebab ada yang Rp 25 ribu. Biasanya beli di warung-warung yang lebih dekat dengan rumah,” ujar Tini, warga Kota Agung. Melda, warga Gisting juga mengaku membeli elpiji dengan harga yang tinggi.

“Kalau dulu memang harganya Rp 20 ribu tapi sekarang tidak bisa lagi sudah Rp 22 ribu,” tandasnya.*

Komentar via Facebook