Pengabdian Masyarakat, Mahasiswa Kepolisian Ronda Bareng Bupati Mustafa

Nyokabar | Rabu, 11 Oktober 2017 | Dibaca: 137 | Lampung Tengah

Nyokabar.com, Lampung Tengah – Sebanyak 11 mahasiswa perguruan tinggi ilmu kepolisian (PTIK) melakukan ronda bersama Bupati Lampung Tengah DR. Ir. Mustafa, Selasa, 10/10/2017 dini hari. Ronda diawali di kampung Kotagajah lalu dilanjutkan ke sejumlah kampung lainnya di kecamatan Kotagajah.

Partisipasi ronda menjadi salah satu pengabdian masyarakat mahasiswa PTIK sebelum menyelesaikan studi mereka. Datang dengan berkendara bis, tiba di lokasi para mahasiswa kepolisian angkatan 72 ini masing-masing berganti kendaraan sepeda motor lalu berkeliling ronda bersama bupati.  

Mereka berkeliling dari kampung ke kampung menyambangi setiap pos ronda yang ada di Kecamatan Kotagajah. Perwira pendamping mahasiswa PTIK Kombes Yus Fadilah, SH. MM. menerangkan pengabdian masyarakat menjadi salah satu persyaratam kelulusan mahasiswa, disamping perkuliahan dan penelitian. 

“Ini salah satu tanggung jawab mahasiswa dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi. Di Lampung Tengah pengabdian ini dilakukan dengan mengikuti ronda, sebagai salah satu program unggulan bupati Mustafa. Kami apresiasi sekali karena ternyata beliau mau terjun langsung,” ungkapnya. 

Ia juga mengakui bahwa program ronda sangat membantu kerja kepolisian dalam menjaga keamanan di tiap daerah. Dengan keterbatasan personel kepolisian, keterlibatan warga lewat ronda sangat membantu. 

“Hasil dari ronda malam ini akan kami buat laporan untuk kemudian dipaparkan langsung kepada bupati. Lewat pengabdian masyarakat ini kami sama-sama memberikan feedback apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu diperbaiki kedepan,” ujar Kombes Yus.

Sementara itu, Bupati Mustafa menerangkan dicanangkannya program kerakyatan semesta (ronda) bermula dari banyaknya permasalahan keamanan dan konflik antar warga di Lampung Tengah. Mustafa sendiri mengaku sudah beberapa kali terjun di tengah peperangan warga. 

“Saya malu jika Lamteng dikenal tidak aman atau banyak begal. Disatu sisi Lamteng kabupaten terluas yakni 5.000 km persegi, terdiri 311 kampung dan dihuni lebih dari satu juta penduduk. Sementara aparat kepolisian jumlahnya terbatas dan Kodim masih menyatu dengan Kota Metro,” jelasnya.

Atas kondisi tersebut, pihaknya menginisiasi agar program ronda kembali digalakkan di tiap-tiap kampung di Lampung Tengah. Sampai saat ini sedikitnya 2017 pos ronda telah dibangun, lampu-lampu jalan dipasang, Linmas dibekali kendaraan patroli dan handy talky, dan kordinasi dengan kepolisian serta TNI juga terus ditingkatkan. 

“Kendati demikian ronda yang saya lakukan bukan ronda biasa. Saya tidak hanya berbicara keamanan, tetapi juga meninjau langsung kondisi masyarakat saya. Kita diskusi bersama dan menyerap aspirasi mereka. Dari sinilah saya bisa menentukan kebijakan yang tepat sasaran untuk masyarakat,” ujar bupati ronda ini. 

Sejak aktif dilaksanakan ronda, menurutnya keamanan di Lampung Tengah relatif terjaga. Tak hanya mengurangi angka kriminalitas, ronda juga efektif menekan konflik horizontal di kalangan masyarakat. “Alhamdulillah sekarang tidak ada lagi terdengar perang-perang antar kampung. Kondisi ini berbeda dengan sebelumnya, beberapa kali konflik warga masih terjadi. Lewat ronda sekarang warga bisa lebih berdampingan,” pungkasnya.*

Komentar via Facebook