Pengembang Bidik Daerah Penyangga

Nyokabar | Selasa, 10 Oktober 2017 | Dibaca: 128 | Bandar Lampung

Nyokabar.com, Bandar Lampung - Program sejuta rumah yang memakai Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menemui kendala di perkotaan tak terkecuali Bandarlampung. Ini disebabkan karena harga lahan yang mahal sehingga menyulitkan pengembang.

Sekretaris Real Estate Indonesia (REI) Provinsi Lampung, Hairul Effendi mengatakan, para pengembang lebih memilih daerah penyangga yang harga tanahnya masih terjangkau untuk membangun rumah subsidi. Ini untuk menyiasati harga jual rumah yang tinggi sehingga tetap menguntungkan dan tidak memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Di Bandarlampung sulit membangun rumah FLPP, karena harga tanah mahal. Pertumbuhannya di daerah penyangga Bandarlampung seperti Lampung Selatan dan Pesawaran,” kata Hairul.

Meski berada di daerah pelosok, diakui Hairul, tingkat pertumbuhan penjualan rumah subsidi terus mengalami peningkatan disebabkan harga terjangkau dan masih banyak warga yang belum memiliki rumah layak huni.

“Angsuran rumah FLPP ini rata-rata Rp800 ribu per bulan. Ini lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata uang kontrak rumah sebulan Rp900 ribu. Jadi daripada ngontrak rumah lebih baik cicil tapi punya rumah,” ujarnya.

Berdasarkan data Bank BTN Cabang Lampung, akad kredit perumahan FLPP di Lampung hingga September 2017 mencapai 3.500 unit. REI Lampung menargetkan hingga akhir 2017 dapat terbangun 5.000 unit perumahan FLPP.*

Komentar via Facebook