Balita Tewas Usai Makan Nasi Beras Rastra

Nyokabar | Selasa, 10 Oktober 2017 | Dibaca: 215 | Lampung Timur

Nyokabar Lampung Timur.  Selvi Balita dua setengah tahun tewas seusai memakan nasi beras raskin yang kini disebut dengan beras Rastra. Dilansir dari salah satu media online Provinsi Lampung, Putri dari Heri (37) Warga Desa Karang Anyar Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur ini tewas setelah sarapan pagi bersama keluarganya dirumah, Sabtu (23/9). Korban tewas baru terungkap oleh media pada Minggu 8 Oktober 2017.

Kepada wartawan Minggu 08 Oktober 2017, Heri mengatakan pada hari itu mereka sekeluarga sarapan bersama setelah menanak beras yang di dapat dari jatah pemerintah dengan menggunakan lauk telur goreng dan sambal tempe.

Namun selang kurang lebih setengah jam dari sarapan itu tiba-tiba rasa mual dan pusing sehingga terjadi muntah-muntah.

“Kami sekeluarga setelah sarapan pagi itu tiba-tiba mual beserta pusing lalu muntah-muntah dan karna tidak kuat kami akhirnya tergeletak semua di dalam rumah,” kata Heri.

Heri mengaku tidak tahu apa penyebabnya, “Hal ini saya tidak tahu apa yang membuat kami sekeluarga menjadi keracunan,” ucapnya.

Sedangkan, lanjut Heri, mereka tidak ada makanan lain, selain makan nasi yang berasnya baru dibuka karungnya pagi itu. “Karung beras itu baru kami buka dan hanya lauk telur goreng dan sambal tempe” ujar Heri.

Akibat kejadian tersebut Heri selaku kepala rumah tangga Harus kehilangan putri nya yang paling kecil yang bernama Selvi karna meninggal dunia pada saat Ba’da isya.

Kejadian keracunan satu keluarga menyimpan misteri. Ironisnya banyak pihak yang justru menutupi tragedi ini.

Banyak pihak justru mencoba menutup-nutupi permasalahan agar tidak menyebar luas Seperti apa cerita yang sebenarnya.

Heri menambahkan, Seminggu setelah kejadian sisa beras yang telah mereka masak tersebut di minta oleh perangkat desa. Dan pada hari Minggu, 08 Oktober 2017, Rumah Heri didatangi banyak orang-orang yang mengaku dari pemerintahan baik Desa. Kecamatan, hingga ada yang mengaku dari Kabupaten.

Mereka membawa beras yang dikatakan beras tersebut adalah beras sisa dari keluarga Heri memasak pada saat kejadian keracunan beberapa hari lalu dan memasak beras tersebut di kediaman Heri kemudian mengumpulkan warga sekitar dan mengajak warga makan nasi yang telah matang itu.

Lalu aparat itu meminta tanda tangan warga setelah makan dan tidak keracunan sehingga puluhan orang rela menandatangani di atas kertas untuk membuktikan bahwa memakan nasi Rastra yang diterima Heri tidak mengandung racun 08 Oktober 2017.

Heri menerima kedatang wartawan, sambil Heri mengenakan kacamata hitam tebal dan memakai sarung. Heri menyatakan dia memakai kacamata hitam karena semenjak keracunan itu pengligatannya terganggu. “Mata saya masih belum bisa melihat yang terang mas semenjak kejadian itu karna sangat silau kalau tidak menggunakan kacamata,” katanya.

 

Heri mengaku dirinya dan keluarga sudah diperiksa dokter, dan dinyatakan keracunan. “Kami sempat dibawa ke dokter Feri, dan di katakan keracunan kemudian saya dan isteri beserta anak-anak saya disarankan untuk dirawat ke Puskesmas,” ujarnya.

 

Namun kemudian, kurang lebih satu jam diperiksa dan dinyatakan tim medis mengalami keracunan dan harus dirawat. “Tapi saya meminta untuk pulang karna saya memikirkan harus mengubur anak saya, sehingga kamipun pulang ke rumah,” jelasnya. (*)

Komentar via Facebook