2000 Mahasiswa Universitas Lampung di Ambang Drop Out

Nyokabar | Selasa, 12 September 2017 | Dibaca: 362 | Pendidikan

 

Nyokabar.com, Bandar Lampung - Sekitar 2.000-an mahasiswa Universitas Lampung (Unila) terancam akan dikeluarkan atau drop out (DO).

Mereka adalah mahasiswa yang tidak aktif atau yang telah melampaui masa mukim.

Wakil Rektor Unila Bidang Akademik Bujang Rahman mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan pemutakhiran data.

"Jadi, jika ada mahasiswa yang tidak lagi kuliah maka didata akademik akan dihapus (clearing)," kata ketua Forum Warek PTN se-Sumatera ini, Senin (11/9/2017).

Bujang menyebut, dari 32 ribu mahasiswa Unila ada ada sekitar 2.000-an mahasiswa yang sudah tidak aktif lagi.

Mereka umumnya adalah mahasiswa angkatan 2010 ke bawah yang telah melewati batas masa mukim.

Maksimal masa mukim sesuai ketentuan adalah 14 semester (sudah termasuk pertimbangan).

Menurut Bujang, pihaknya telah mengirimkan surat ke seluruh fakultas untuk meng-update data mahasiswa setiap prodi.

Bujang menjelaskan, upaya clearing itu berdasarkan Peraturan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Permenristek Dikti) Nomor 44 Tahun 2015 tentang Sistem Pendidikan Tinggi Indonesia dan Peraturan Akademik Unila Tahun 2016.

Selain itu, ada surat edaran nomor 1064/UN26/KU/2017 tentang implementasi pemberian sanksi denda keterlambatan bagi mahasiswa program diploma, sarjana, dan pasca sarjana Unila, terkait pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) dan SPP.

"Aturan tersebut akan diberlakukan pada 31 Oktober 2017 mendatang. Jika aturan itu diberlakukan maka kami akan melakukan DO massal bagi mahasiswa yang tidak aktif lagi," tegasnya.

Selain itu, menurut Bujang, pihak kampus sedang mendata mahasiswa yang menunggak pembayaran SPP.

Khusus untuk tunggakan SPP didata dari mahasiswa angkatan 2012 ke bawah yang pada saat itu belum ada penerapan sistem uang kuliah tunggal (UKT).

"Kepada mahasiswa-mahasiswa tersebut, kami juga akan menerapkan sistem DO sesuai aturan yang ditetapkan," jelasnya.

Pengamat pendidikan Rochmiyati mengatakan, pengambilan keputusan untuk DO massal harus dilakukan secara matang.

Kampus harus lebih dulu mengkomunikasikan hal tersebut dengan mahasiswa, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.

Presiden Mahasiswa Unila Herwin Saputra sangat mengapresiasi langkah pihak rektorat dalam meningkatkan kualitas Unila.

Namun, mahasiswa semester VIII itu mengingatkan harus ada mekanisme yang perlu ditempuh, misalnya dengan memberikan surat peringatan (SP).

"Kalau SP pertama hingga ketiga tidak digubris maka langkah tepatnya ya harus dikeluarkan," kata mahasiswa prodi pendidikan fisika FKIP angkatan 2013 ini.

Menurutnya, selama aturan yang dibuat rektorat itu pas itu tak masalah. Tapi misalkan ada mahasiswa yang terancam DO namun ingin tetap kuliah maka pihak kampus harus memfasilitasi sehingga tidak ada upaya lepas tangan.*

 

Komentar via Facebook