Warga Cemas, Kawanan Gajah Liar Masuki 2 Kampung

Nyokabar | Rabu, 23 Agustus 2017 | Dibaca: 354 | Tanggamus

Nyokabar.com, Tanggamus - Warga Pekon Sri Katon dan Karang Agung, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Lampung sudah 18 hari terakhir diliputi rasa cemas dan waswas.

Pemicunya, kawanan gajah liar yang diperkirakan berjumlah 12 ekor masih sering masuk ke perkampungan. Rombongan gajah ini rutin datang saat malam hari dan baru beranjak pergi menjelang pagi.

Namun kepergian kawanan gajah hanya berpindah dari satu titik ke titik lainnya yang masih di kawasan dua pekon.

"Pokoknya ya takut, khawatir, tidak nyaman seperti dulu. Takutnya kalau sedang ada di kebun tahu-tahu datang gajah," ujar Rahma, warga Sri Katon.

Rahma mengaku hanya bisa pasrah apabila harus terpergok kawanan gajah.

Kemampuan berlari sebagai perempuan yang berumur, kalah jauh dibanding larinya gajah.

Terlebih dengan bentuk fisik yang besar, gajah bisa menabrak apapun tanpa terasa terhalang.

"Kalau terpaksa ketemu cuma bisa ngomong, saya tidak mau ganggu, saya cari makan sendiri, kamu juga cari makan sendiri," ujar Rahma yang mengaku sudah beberapa kali melihat gajah dari kejauhan.

Saat ini warga hanya bisa mengecek seberapa parah kerusakan tanaman budidaya mereka. Kawanan gajah telah merusak tanaman pepaya yang merupakan budidaya mayoritas warga.

Gajah memakan batang-batang pisang, daun kelapa pada tanaman muda, kelapa sawit di Pekon
Pardawaras dan tanaman padi di Pekon Karang Agung yang masih berdekatan.

"Sekarang ini jadi kalau malam ada ronda, takutnya gajah yang biasa datang malam hari itu terus masuk ke sekitaran rumah. Sebab dulu waktu pertama datang langsung ke dekat rumah. Waktu itu suami saya yang tahu sampai akhirnya lari ketakutan," ujar Suwarni, warga lainnya.

Ia mengaku gajah sudah beberapa kali mendekati rumahnya yang kebetulan ada di pinggir perkampungan.

Rumah permanen bercat putih itu kini jadi posko untuk yang meronda. Meski begitu gajah tetap tertarik ada di sekitaran rumahnya.

"Semalam (Minggu dini hari) saja, saya dengar suaranya, terus bilang dengan suami (Sapar). Terus dia dan satu orang lain menyangka batu, setelah dinyalakan mercon terus disenter ternyata ada gajah dua ekor menggerakkan belalainya," ujar Suwani.

Ia menceritakan, sekitar 20 tahun lalu memang ada tiga ekor gajah mendatangi pekon tersebut.

Perilakunya pun sama yakni memakan tanaman dan merusak tanaman lain yang tidak dimakan.

Namun saat itu perilakunya mudah diusir karena langsung digiring untuk dipindahkan.

Sementara kawanan gajah yang sekarang sulit pergi. Beberapa kali sudah mendekati hutan lindung, namun kembali lagi ke sekitar perkampungan.

Saat ini satgas gabungan dari BKSDA, TNBBS, World Wide Fund for Nature (WWF), Wildlife Conservation Society (WCS), Rhino Protection Unit (RPU) bersama warga beberapa pekon belum berhasil mengusir gajah masuk hutan lindung.

Dugaannya karena ada tiga ekor gajah yang masih anakan yang belum kuat fisiknya. Terlebih lokasinya di perbukitan.

Jika anakan gajah itu berhenti, gajah-gajah dewasa akan berhenti juga. Jika sudah begitu maka satgas dan warga tidak bisa lagi terus menggiring, sebab dikhawatirkan gajah akan marah lantas menyerang balik yang tentu akan timbulkan korban jiwa.

Menurut Herman, dari BKSDA Lampung-Bengkulu, sampai saat ini penanganan hanya bisa menggiring gajah menjauh dari pemukiman saja, belum bisa menggiringnya masuk ke hutan lindung register 32.

"Nanti akan kedatangan tim dari Way Kambas yang survei. Hasilnya itulah yang jadi penyelesaian masalah. Kalau mau digiring ke hutan maka cari jalur yang agak landai supaya gajah mau melewatinya, sebab kalau curam pasti tidak mau," ujarnya.

Satgas gabungan masih terkonstrasi agar jangan ada konflik antara manusia dan satwa. Sebab, gajah adalah hewan yang dilindungi sedangkan manusia juga perlu dijamin keselamatannya.

"Kami masih menjaga jangan terjadi konflik saja dengan lakukan penjagaan, langkah penyelesaian nanti menunggu hasil survei tim dari Way Kambas," kata Herman.*

Komentar via Facebook