Investor Swasta Tingkatkan Ekonomi Lampung

Nyokabar | Jumat, 11 Agustus 2017 | Dibaca: 168 | Ekonomi

Investor Swasta Tingkatkan Ekonomi Lampung

Kepala Kantor Bank Indonesia, yang juga menjabat Wakila TPID Provinsi Lampung, Arief Hartawan.

Nyokabar.com, Bandar Lampung - Di tengah proses pemulihan ekonomi nasional yang tidak secepat perkiraan, perekonomian Lampung di triwulan II 2017 masih dapat tumbuh cukup tinggi yakni 5,03% (yoy).

Pertumbuhan itu didorong oleh pesatnya pengeluaran konsumsi rumah tangga dan investasi di atas rata-rata historis 3 tahun terakhir. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi Lampung di atas pertumbuhan ekonomi Sumatera dan nasional yang masing-masing sebesar 4,90% (yoy) dan 5,01% (yoy). Di sisi produksi, perekonomian Lampung triwulan II 2017 ditopang oleh sektor perdagangan yang tumbuh hampir 3 kali lipat dari rata-rata historisnya dan sektor konstruksi yang tumbuh double digit.

Kepala Kantor Bank Indonesia, sekaligus Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) provinsi Lampung,  Arief Hartawan mengatakan, pertumbuhan ekonomi triwulan II seharusnya dapat lebih tinggi jika belanja pemerintah daerah lebih ekspansif.

“Ditengah kondisi fiskal yang terbatas, langkah penting yang perlu ditempuh Pemerintah Daerah dalam jangka pendek (immediate action) adalah menarik sebanyak-banyaknya investasi swasta ke Lampung” ujarnya saat ditemui, Kamis (10/8).

Arief menambahkan, dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh cukup tinggi sebesar 6,09% (yoy) sesuai dengan pola musiman pada periode Ramadhan dan Idul Fitri yang bersamaan dengan liburan sekolah.

Selain itu,pertumbuhan investasi juga tercatat meningkat cukup signifikan yaitu sebesar 11,82% (yoy), yang pada triwulan sebelumnya mengalami kontraksi -1,44% (yoy).

Peningkatan kinerja investasi terutama pada investasi bangunan seiring dengan pesatnya pembangunan proyek strategis Pemerintah seperti infrastruktur jalan, termasuk pembangunan properti bersubsidi oleh swasta.

Perkembangan yang positif juga terjadi pada investasi non bangunan yang tercermin dari peningkatan impor barang modal secara signifikan yakni mencapai 59,5% (yoy)  serta penyaluran kredit investasi yang tercatat tumbuh cukup tinggi, yakni 23,89% (yoy). Dari sisi eksternal, perkembangannya belum terlalu menggembirakan tercermin dari net ekspor yang masih mencatat negatif. 

Pertumbuhan ekspor yang tercatat cukup tinggi yakni sebesar 10,80% (yoy) belum mampu mengimbangi impor yang naik lebih tinggi yakni 16,50% (yoy). Berita baiknya, impor yang pesat tersebut sebagian besar dalam bentuk barang modal yang dalam jangka menengah panjang dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas perekonomian Lampung. Hal yang perlu mendapat perhatian terkait dengan masih rendahnya realisasi konsumsi pemerintah bahkan mengalami kontraksi -6,80% (yoy).

Dari sisi produksi, sektor perdagangan tumbuh 8,52% (yoy) sejalan dengan masih kuatnya permintaan domestik sesuai pola musiman HBKN. Selain itu, sektor konstruksi tercatat tumbuh tinggi yakni 11,13% (yoy) yang didukung oleh pesatnya pertumbuhan investasi bangunan.

Kedua sektor tersebut memberikan andil yang cukup tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi Lampung, yakni masing-masing sebesar 0,98% dan 0,90%. Sektor lainnya yang juga memberikan andil cukup tinggi adalah sektor industri pengolahan (0,92%), meskipun tumbuh  melambat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Adapun sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang memiliki pangsa terbesar mengalami perlambatan pertumbuhan dari 1,03% (yoy) menjadi 0,64% (yoy). Hal ini terutama dipengaruhi oleh panen raya bahan pangan yang berlangsung lebih awal yakni sebagian besar di triwulan I serta masih cukup tingginya curah hujan yang mengganggu produksi tanaman hortikultura dan hasil perkebunan.

Kedepan, untuk menjaga momentum berlanjutnya pemulihan ekonomi di Lampung, beberapa hal yang perlu ditempuh adalah : Pertama, dalam jangka pendek segera melakukan upaya untuk memperbaiki iklim investasi yang meliputi aspek perizinan (kemudahan, kepastian, kecepatan dan kewajaran biaya), aspek informasi (transparansi, kemudahan akses, kelengkapan, kekinian dan akurasi), aspek regulasi (kepastian, kejelasan, keselarasan, sederhana dan insentif investasi), aspek komunikasi dan program (strategi promosi dengan public relation yang handal; jejaring investor domestik dan internasional yang luas; visi, program dan timeline yang jelas). Selain itu, aspek yang strategis untuk menarik investasi adalah penyediaan infrastruktur dasar yang handal seperti listrik dan air serta konektivitas yang efisien dan terhubung dengan global value chains.

Berbagai hal tersebut akan lebih fokus didorong melalui pembentukan dan pengembangan Forum Investasi Lampung (FOILA) yang diinisiasi oleh Bank Indonesia Provinsi Lampung sebagai wadah sinergi bersama antara Pemerintah Daerah Lampung dengan seluruh stakeholders terkait. 

Kedua, mendorong pengembangan kawasan pariwisata oleh investor swasta antara lain untuk menyediakan sarana dan prasarana transportasi dari/ke tempat tujuan pariwisata, sarana akomodasi (hotel, guest house, home stay) dan kuliner, termasuk  pengembangan industri kreatif (kerajinan, makanan, atraksi) khas daerah Lampung. Selain itu, penting untuk memperbaiki penyelenggaraan event yang ada secara lebih menarik, melibatkan banyak pihak dan mendapat  dukungan dari Kabupaten/Kota sehingga lebih meriah dan memberi kesan baik bagi wisatawan.

Ketiga, meningkatkan kinerja ekspor melalui optimalisasi produksi dan perdagangan produk yang berdaya saing tinggi termasuk perluasan pasar tujuan ekspor yang baru seperti Afrika. Berbagai hal tersebut diatas perlu menjadi prioritas bagi Pemerintah Daerah agar pemulihan ekonomi Lampung dapat terus berlanjut untuk mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.*

Komentar via Facebook