Musim Strawberry di Gaza dan Tantangan Petani di Palestina

Nyokabar | Jumat, 31 Maret 2017 | Dibaca: 534 | Mancanegara

Nyokabar.com, Gaza - Jalur Gaza sangat dikenal sebagai tanah yang palig subur di bidang pertanian. Bahkan, beberapa hasil pertanian di Gaza telah menjadi komoditas ekspor ke luar negeri. Meskipun di bawah tekanan dan blokade Israel, petani di Gaza khususnya petani penghasil buah strawberry telah menanam pada sepuluh tahun terakhir. Tidak semua tanah di Gaza bagus untuk ditanami buah strawberry, hanya di wilayah utara saja yang bagus untuk ditanam buah dan sayur.

Dari segi kesehatan, buah-buahan dan sayuran sangat bagus untuk metabolisme tubuh, memperlancar peredaran darah dan mencegah penyakit kronis seperti kanker dan penyakit lainnya. Namun demikian, tantangan yang dihadapi oleh petani di Gaza tidak ringan, perlu didukung dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan dunia internasional. Khususnya masalah pengairan dan dukungan modal.

Awal musim menanam strawberry

Di jalur Gaza, musim yang sangat bagus untuk menanam buah strawberry adalah mulai bulan mei. Untuk bisa menanam buah strawberry yang bagus minimal 500 bibit strawberry. Namun, petani di Gaza hanya bisa menanam 50 bibit pohon saja, sehingga mempengaruhi hasil komoditas ekspor.

Kendala lain yang dihadapi oleh petani buah strawberry di Gaza adalah mahalnya harga bibit, satu pohon muda harganya 5 USD. Masa panen strawberry sekitar bulan agustus-september. Sehingga untuk bisa dipanen membutuhkan waktu kurang lebih 10 bulan tiap tahun.

Mahalnya biaya produksi

Petani strawberry di jalur Gaza untuk satu hektare menghabiskan biaya produksi sekitar 1.500 USD untuk awal masa tanam saja. Sehingga, untuk satu hektar saja minimal harus dibantu oleh tiga petani untuk bisa menutup biaya produksi. Kendala lain adalah tidak semua tanah di Gaza yang bagus untuk ditanam, hanya di Gaza bagian utara saja yang bagus untuk ditanam.

Akibat blokade atas Israel, khusus untuk komoditi strawberry, pemerintah Palestina kesulitan untuk melakukan ekspansi dan ekspor hasil panen strawberry. Lebih dari 30 tahun, Israel menutup pintu perbatasan tidak ada satupun petani gaza melakukan ekspor ke negara lain. Kecuali pengusaha dan petani strawberry pindah ke negara arab lainnya. Tercatat sejak tahun 2000, Gaza hanya bisa mengekspor komoditi strawberry hanya enam kali saja. Petani di Gaza sangat kesulitan mengembangkan bidang agrobisnis khususnya untuk ekspor ke luar negeri akibat blokade Israel atas Gaza.*

Komentar via Facebook